IDWS.ID

Unik

Menelusur Sosok Androgini Oportunis Dalam Dunia Imaji Seni Iqro' Ahmad Ibrahim

17 Jan 2019

Makhluk bergaris – garis horizontal, berbadan tambun, berbentuk seperti ayam potong, satire nan menggemaskan. Banyak keunikan pada figur yang ada di karya – karya Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi. Iqro' adalah seniman muda Yogyakarta kelahiran Kendal, 24 Oktober 1983. Pada saat artikel ini diterbitkan, Iqro' sedang menggelar pameran tunggal bertajuk “Ada Gula Ada Semut: Colossal Drama of The Opportunist” di Green Art Space, Yogyakarta, tanggal 22 Desember 2018 – 21 Januari 2019. Tim IDWS berkesempatan berbicang langsung dengan Iqro' di Yogyakarta untuk membahas figur makhluk yang menarik perhatian kami tersebut.


The Sky Never Lies #4 - Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

“Figur itu bernama Aku. Simplifikasi dari manusia,” jelas Iqro'.

Awal penciptaan Aku mengalir begitu saja saat Iqro' melakukan drawing sebagai self art-therapy. Hal itu merupakan proses Iqro' dalam mengais “kedirian” atau “keakuan”. Seiring waktu, Iqro' melakukan pembedahan akan figur buatannya. Dia mengonsultasikan figur Aku dengan kawan psikolog. Menurutnya, goresan apapun yang diciptakan pasti ada dorongan alam bawah sadar dan pasti ada sebab akibat. Disadari, Iqro' memang mendalami filsafat humanis, konsep dualitas.

Mengenai garis – garis di tubuh Aku, khalayak memandang itu seperti pakaian narapidana. Menurut Iqro', tubuh adalah penjara dari jiwa manusia. Namun awalnya, Iqro' menambahkan garis – garis tersebut mengambil esensi dari warna, mengacu pada konsep dualitas; keberimbangan. Kesadaran Iqro' akan respon khalayak, membuat dirinya lebih bisa menggali cara agar karyanya mudah dicerna. Iqro' tidak memaksa khalayak untuk setuju dengan pemaknaan wantah darinya. Dia memilih untuk memberikan clue – clue agar khalayak lebih bisa kaya dalam menafsirkan dan mencerna gagasan yang ingin dia utarakan.

Merunut respon orang mendeskripsikan bentuk Aku seperti ayam, Iqro' teringat masa kecilnya. Masa kecil Iqro' suka berkebun dan beternak, dekat dengan hewan terutama ayam. Menurutnya (dari sumber – sumber yang dia cari), ayam memiliki filosofi sendiri. Ketika mencari makan, ayam mengais dan memilah mana yang baik mana yang buruk sebelum dimakan. Baik dan buruk, dekat dengan konsep dualitas yang Iqro' geluti. Ketika ayam dikorbankan untuk disajikan sebagai ingkung, ayam ada pada posisi manengkung atau bersemedi. Dalam Bahasa Jawa, ingkung berasal dari perpaduan kata ingsun yang berarti aku dan manengkung yang berarti berserah kembali pada Sang Pencipta. Lagi – lagi ada konsep dualitas di sini yang menciptakan keseimbangan antara makhluk dan penciptanya.

Antara Logika dan Nafsu

“Kenapa kepala kecil dan badan besar, aku merujuk pada bumi. Cosmos, alam. Kepala identik dengan logika, pikiran, yang sangat sadar mampu mengontrol apa yang ada di dalam perut yang identik dengan nafsu,” cerita Iqro', “jadi sebenarnya tombol kecil itu seperti tombol yang mampu meredam, mengontrol apa yang diinginkan”.

Party After Cold War - Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

Figur aku bisa transformasi menjadi banyak hal. Bisa menjadi sosok ikan, ular, apapun, tinggal menempelkan identitas sesuai konteks. Biasanya Iqro' menempel perubahan identitas itu di setengah badan ke bawah. Iqro' menjelaskan bahwa suatu ketika Aku bisa hidup di air, angkasa, di mana saja. Figur Aku tetaplah aku (manusia) tunggal, bukanlah alter ego yang membentuk karakter – karakter lain. Transformasi yang terjadi pada figur Aku lebih ke arah sentilan metafora dari sifat – sifat yang ada dalam diri manusia. Sifat – sifat tersebut tak jauh dari konsep dualitas, di mana munculnya perbedaan sisi yang membentuk keseimbangan.

Titano Makiya #1 - Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

Berbicara mengenai adanya ukuran figur Aku yang besar atau gigantik, loncat ingatan Iqro' akan mitologi raksasa. Menurutnya, mitologi raksasa di tanah Jawa sangat kuat dan familiar, di Barat pun ternyata juga sama. Munculnya mitologi Yunani mengenai perang antar titan yang disebut Titanomakhia memperkuat mitologi tentang raksasa di dunia Barat. Mitologi tersebut menjadi salah satu dasar penciptaan karya miliknya berjudul Titano Makiya. Menurutnya, perang – perang yang terjadi di masa lalu hanyalah pelengseran – pelengseran sebuah kekuasaan, sebuah tiran. Ada dualitas yang menggambarkan baik dan buruk, rakyat dan penguasa.

“Mungkin dulu ada benar tokoh raksasa pemakan manusia. Cuma aku lihat ke sini kan, raksasa – raksasa itu masih ada. Tapi pemakan sisi kemanusiaan,” tutur Iqro'. Banyaknya ghibah di sekitar dan sosial media adalah salah satu perwujudan para pemakan sisi kemanusian tersebut di era modern sekarang. Disambungkan dengan hadist, perilaku mereka seperti memakan bangkai saudara mereka sendiri.

Keakuan Sosok Androgini

Wacana androgini meledak pada tahun 1960an, masa flower generation. Isu itu muncul perlahan namun terus bergulir. Ibarat bayi, figur Aku susah diketahui gendernya sebelum dicek alat kelaminnya. Seperti apa yang terjadi dewasa ini, misalnya saja seorang perempuan berkepala botak dan berpawakan seperti lelaki. Tidak mudah ditebak jika tak mengenal dekat. Figur Aku adalah sosok androgini. Tak lepas dari konsep dualitas yang memang digeluti Iqro', hal ini mengacu pada adanya sisi maskulin dan feminin dalam diri manusia. Bias mengenai gender dalam figur Aku dipertahankan sesuai interpretasi khalayak.

Creation of Neo Society #2 -  Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

Aku bisa menjadi sosok lelaki dengan sisi maskulinnya, suatu saat bisa menjadi sosok perempuan dengan sisi femininnya. Samar. Batasan gender, sisi maskulin feminin, terkesan samar pada figur Aku. Penciptaan ke-androgini-an tak lepas dari pengalaman pribadi Iqro'. Pada masa kecilnya, fisik Iqro' tampak feminin seperti perempuan. Namun secara psikis, dia adalah pria. Pengalaman masa lalu tersebut diwarnai dengan trauma yang justru menjadi penanda – penanda baginya dalam berkarya saat ini. Hal ini juga memicu Iqro' untuk semakin menggali tentang masa lalu, pendahulu, dan semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Tidak menjurus secara wantah mentranslasi nuansa androgini dalam karya. Karya – karya Iqro' saat ini memainkan psikologi warna. Pemakaian warna populer, warna – warni atau orang bilang sebagai warna pelangi mewarnai dunia imaji-seni Iqro'. Salah satu warna itu adalah warna yang menggeser persepsi; pink. Warna pink adalah warna paling kentara menciptakan polemik masa demi masa. Misalkan saja jaman dahulu lelaki anti memakai baju warna pink. Pada era ini justru banyak pria yang berlomba – lomba memakai busana berwarna pink. Hal ini menjadi salah satu kedahsyatan efek visual. Masyarakat secara tidak sadar disuapi suatu fenomena yang populis tanpa tahu makna sebenarnya, mengabaikan mengapa harus sampai muncul fenoma itu sendiri.

Underconsciousness

“Banyak. Kalau yang konteksnya sekarang ya Bebas Bersyarat dan Underconsciousness,” cerita Iqro' saat ditanya mengenai karya ciptaannya yang paling spesial baginya.

Bebas Bersyarat - Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

Sosok siluet jin keluar dari botol berabel bintang. Siluet jin tersebut melekat di tembok merah bergambar Pulau Papua. Gambaran visual tersebut adalah apa yang terlihat dari karya Iqro' berjudul Bebas Bersyarat.  Pada awal pembuatan karya, Iqro' ingin melukiskan semua pulau di Indonesia. Namun saat melihat konteks dan urgensinya, dia memutuskan untuk berfokus pada Pulau Papua. Menurutnya, banyak isu – isu dan konflik sosial yang menyeruak di Papua. Sangat urgent untuk diangkat ke publik.

Underconsciousness adalah karya gagasan pertama pada pameran The Colossal Drama of The Opportunist namun selesai paling akhir. Karya tersebut memvisualkan tumpukan figur Aku yang ada di kapal tenggelam. Ada satu figur yang sebagian badannya muncul di atas purmukaan air. Sedangkan figur lain ada yang mencoba membantu mengayuh kapal, ada yang menjegal,  sibuk memanjat, ataupun berusaha menyelamatkan diri. Secara visual, lukisan itu seperti gunung es. Sebuah gunung es yang menurut Iqro' merupakan tumpukan imaji alam bawah sadarnya.

Underconsciousness - Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

Repetisi tulisan di kapal yaitu “Berakit – rakit dahulu, berenang – renang ketepian” menambah daya tarik karya Iqro' tersebut. Repetisi tersebut memiliki anomali di kalimat akhirnya yaitu “Tenggelam urusan belakangan”. Menurut Iqro', banyak kasus seperti itu yang terjadi di masyarakat. Contohnya saja peristiwa tenggelamnya kapal di Danau Toba dan tragedi Tampomas. Banyak pihak – pihak yang mengambil kesempatan, memanfaatkan momen dari sebab akibat peristiwa tersebut.

Ada Gula Ada Semut: Colossal Drama of The Opportunist

Ada Gula Ada Semut adalah ide penamaan awal pamerannya yang digelar saat ini. Menurutnya, jika hanya memunculkan Ada Gula Ada Semut, khalayak mungkin hanya akan melihat mengenai peluang. Iqro' melihat konteks pada saat ini; masyarakat sudah sangat drama. Banyak hal – hal yang dilebih-lebihkan, terutama di dunia maya. Susah bagi masyarakat memilah informasi yang benar. Muncul permasalahan seperti HOAX ataupun ghibah yang diikuti pula oleh para oportunis untuk memanfaatkan celah ini demi keuntungan mereka. Iqro' menambahkan kalimat Colosal Drama of The Opportunist untuk semakin menajamkan makna dan lebih provokatif.

Iqro' bersama karyanya berjudul "Berbagi Hidup"

“Aku kadang merasa, sebenarnya juga seorang oportunis, beruntungnya aku hidup di lingkungan humanis. Dengan norma. Sehingga aku lebih bisa meredam dan memfilter,” terang Iqro' mengenai pandangannya akan oportunis.

Menurut Iqro', oportunis itu sah – sah saja. Hanya saja ada benturan dengan prinsip – prinsip dasar humanis. Mereka mengabaikan nilai – nilai etika, norma, moral, dan lainnya. Parahnya, mereka mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain untuk menjadi komoditas. Di mana saat ada kesusahan, orang berpikir bagaimana cara berbagi, mereka justru berpikir mencari celah untuk mendapatkan keuntungan.

Berkesenian Sebagai Pengumbar Ego

Ketika ditanya mengenai gol dalam berkarya, secara sederhananya, Iqro' ingin bisa menginspirasi orang lain. “Berkesenian adalah sebagai pengumbar egoku. Seorang seniman ataupun pemimpin harus mempunyai ego dan membesarkan egonya. Tapi dia harus bisa menekan egonya sendiri. Karena jika tak ada ego, maka tidak ada motivasi untuk menciptakan sesuatu,” jawab Iqro'.

Garden Party Behind My Country - Iqro' Ahmad Ibrahim Laili Subkhi

Seniman yang memiliki life quote "Kesunyian itu mendekatkan kita pada kejujuran" ini menambahkan, berkeseniannya seperti menanam pohon. Dulu Iqro' bercita – cita sebagai petani. Saat ini, bertani itu sebagai esensi saja baginya dalam berkarya. Dia sadari apa yang harus ditanam, bagaimana lahannya, bagaimana cara memupuk lahannya, apakah hasilnya bisa dinikmati jangka pendek atau panjang, dan segala macam hal yang diperhitungkan dalam bertani. Metafora dalam bertani tersebut dilakukan Iqro' dalam berkarya. Salah satu yang paling disoroti Iqro' adalah apa yang akan dilakukan petani pasca panen. Menurutnya, banyak seniman yang tidak tahu akan dibawa ke mana hasil karyanya. Iqro' jujur mengakui, dia memperhitungkan cara menjual karya seninya. Selain untuk menghidupi, hasil apresiasi karya (yang terjual) adalah salah satu jalan untuk biaya menciptakan karya – karya yang lain, untuk mengumbar ego – egonya yang siap menerkam di belantara subject matter. (deJeer/ IDWS)

 

Share    

IDWS Promo