Video ibu-ibu dari jendela yang menjatuhkan batu bata pembangunan tembok, viral di internet. Beberapa akun media sosial warganet Indonesia memberikan narasi bahwa perempuan menggendong anaknya tersebut yang bersalah karena tidak memiliki hak atas tanah yang dibanguni tembok. Dinarasikan seolah-olah terjadi di Indonesia, di mana dan apa yang sebenarnya terjadi?

Laman berita Spanyol, El Faro de Ceuta, mengungkap (20/9) kejadian tersebut berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026 di kawasan El Principe Alfonso, Ceuta, Spanyol. Insiden terjadi ketika perempuan yang menggendong anaknya itu memprotes pembangunan tembok yang menutup pandangan jendela rumahnya tanpa izin.

Perempuan itu menjatuhkan beberapa batu bata pembangunan tembok. Namun seorang pemuda minor yang bekerja di pembangunan ilegal tersebut justru melemparkan batu bata sebanyak 2 kali ke arah jendela hingga pecah.

Kepolisian Nasional Spanyol mengonfirmasi kepada Maldita yang kemudian merilis cek fakta. Disebutkan seorang minor ditahan pada 20 September 2026. Terkonfirmasi pula bahwa pembangunan tersebut adalah pembangunan ilegal.

Perempuan pemilik rumah harus menjalani perawatan rumah sakit akibat luka di wajah dan punggung. Bagian mata korban alami memar dan sejumlah luka di wajah yang membutuhkan jahitan. Sedangkan sang anak dalam kondisi aman.

Dalam laporan El Faro de Ceuta (21/9), rumah perempuan itu mengalami pengerusakan. Pemilk rumah mengatahui kondisi ini usai pulang dari rumah sakit. Banyak batu bata yang berada di dalam rumahnya, kondisi rumah berantakan. Disinyalir pelaku masuk dari jendela lalu kabur setelah melakukan pengerusakan.

Minor dalam video beredar itu tidak ditahan lebih lanjut pada 21 September 2026 oleh Pengadilan Anak Ceuta. Ia dibebaskan bersyarat dengan status tersangka dalam perkara dugaan penganiayaan menggunakan benda berbahaya. Pemuda itu juga dikenai restraining order dan pengusutan kasus tetap dilanjutkan.

Cek fakta RTVE Verifica merilis (22/9), narasi bahwa pembangunan rumah ilegal dilakukan oleh migran yang merupakan bagian dari gelombang migran massal ilegal pada akhir bulan Juli lalu adalah tidak benar. Perempuan dan pemuda terekam dalam video adalah warga setempat.

Permasalahan yang yang terjadi adalah konflik berkepanjangan antar tetangga. Konflik antar tetangga terlibat, bukan pertama kalinya terjadi. Hanya saja kali ini berujung dengan tragedi yang viral tersebut.

Sebagai informasi tambahan, kawasan Principe di Ceuta memiliki mayoritas populasi muslim dan berbatasan dengan Maroko. Hal ini menjadi penjelasan mengapa perempuan dalam video viral tersebut berjilbab.