IDWS.ID

Gadget

Menilik Sejarah BlackBerry, dari Raja Ponsel Hingga Bertekuk Lutut di Hadapan iPhone dan Android

05 Jan 2022

Ponsel BlackBerry yang sempat begitu booming di dunia termasuk Indonesia, kini telah menemui akhirnya.

IDWS, Rabu, 5 Desember 2021 - Pada 22 Desember 2021, perusahaan asal Kanada, BlackBerry, mengumumkan akan menghentikan dukungan bagi seluruh ponsel BlackBerry dengan sistem operasi 7.1, software BlackBerry 10, dan BlackBerry PlayBook OS 2.1 dan versi sebelumnya.

Dengan kata lain, ponsel-ponsel tersebut tidak bisa lagi menggunakan fungsi data, panggilan telepon, SMS, atau panggilan darurat. Penghentian dukungan tersebut sudah dilakukan pada hari Selasa (4/1/2022) kemarin.

Di masa jayanya, BlackBerry merupakan gadget wajib terutama bagi para pelaku bisnis. Mulai dari kalangan remaja hingga pebisnis, politikus, maupun para pemain saham di Wall Street seolah tidak bisa hidup tanpa memiliki ponsel-ponsel BlackBerry pada saat itu.

Pada 2010, BlackBerry menguasai 50 persen pasar ponsel pintar di Amerika Serikat dan menjual lebih dari 50 juta perangkat setiap tahunnya di pasar global.

Sayangnya setahun kemudian, Apple merilis iPhone pertamanya pada 2007 dan ponsel berbasis Android muncul pada 2008, membuat dominasi BlackBerry runtuh dengan begitu cepat. Pada 2016, BlackBerry menghentikan manufaktur ponselnya, dan ditutup dengan penghentian dukungan bagi ponsel-ponsel BlackBerry lawas di awal tahun 2022.

Di Indonesia sendiri, BlackBerry menjadi suatu fenomena masif yang melahap hampir seluruh lapisan masyarakat. Kultur bertukar PIN dari aplikasi BBM pun jadi tren selama beberapa tahun lamanya. Kemunculan iPhone masih belum terlalu menggerus kejayaan BlackBerry di Indonesia karena harga iPhone yang relatif mahal bagi mayoritas masyarakat Indonesia.

Namun begitu ponsel-ponsel pintar dengan sistem operasi android berharga murah dari China menyerbu, era kejayaan BlackBerry di Indonesia pun benar-benar berakhir.

 

(ollo/IStockPhoto)

 

Sejarah BlackBerry

Di tahun 1984, dua mahasiswa asal Kanada bernama Mike Lazaridis dan Douglas Fregin mendirikan perusahaan bernama Research in Motion (RIM) yang merupakan perusahaan pengembang teknologi data nirkabel pertama di Amerika Utara, sekaligus perusahaan non-Skandinavia pertama yang mengembangkan produk konektivitas seperti modem dan pager.

RIM kemudian melantai di bursa saham Nasdaq pada 1999 kemudian memperkenalkan RIM 850 Wireless Handheld serta BlackBerry Enterprise Server Software bagi server Microsoft Exchange. RIM juga menandatangani kerjasama untuk menyuplai Dell Computer serta mengembangkan sejumlah proyek-proyek non-ponsel seperti sistem LED bagi General Motor dan jaringan lokal bagi IBM.

Di tahun 1998, sistem film-editing RIM menerima penghargaan Technical Achievement Academy Award dari Acedemy of Motion Picture Arts and Sciences.

Tahun 2000, RIM merilis BlackBerry 957, perangkat pertamanya dengan fitur push email dan akses internet yang dipasarkan sebagai "pager dua arah" dengan keyboard QWERTY dan elemen-elemen yang nantinya akan digunakan dalam produksi ponselnya

 

BlackBerry 850/950. (Foto: Ruben de Rijcke/Wikimedia Commons)

Baru pada tahun 2002, RIM merilis produk ponsel pertamanya yakni BlackBerry 5810, ponsel yang memiliki kemampuan mengirim serta menerima email dan bekerja di jaringan 2G, menggunakan platform Java, serta bisa digunakan untuk panggilan telepon meski tidak memiliki built-in speaker dan mikrofon. Selain itu gadget ini juga bisa melakukan SMS dan bahkan fungsi browser primitif.

Setahun kemudian, RIM merilis BlackBerry 7230 yang merupakan ponsel pintar pertamanya yang sesungguhnya. Ponsel ini memiliki display berwarna, 16MB storage, 2MB RAM, dan fungsi membuka dokumen seperti PDF, Excel, dan PowerPoint.

Sejak saat itu, ponsel-ponsel BlackBerry menjadi kebutuhan wajib bagi pejabat maupun pebisnis karena fungsinya serta tingkat keamanan terjamin. Bahkan eks presiden AS, Barack Obama, juga menggunakan ponsel BlackBerry.

 

Barack Obama dikenal menggunakan ponsel BlackBerry saat menjabat sebagai presiden AS. (Foto: Pete Souza/Wikimedia Commons)

Di tahun 2007, BlackBerry memperoleh penghasilan lebih dari USD 3 miliar dan pendapatan bersih mencapai USD 631 juta.

Sayangnya BlackBerry (RIM) mabuk akan kejayaan mereka dan terlambat merespon perubahan. Mereka tidak menghiraukan teknologi layar sentuh pada iPhone dan Android dan ngotot menggunakan tombol fisik pada produk ponselnya.

Begitu iPhone dan ponsel Android terus berkembang dari tahun ketahun, para pelanggan setia BlackBerry yang mayoritas berasal dari kalangan pengusaha dan pelaku bisnis pun mulai berpaling dari BlackBerry. Hal ini memaksa RIM mengizinkan aplikasi chatting populernya, BBM, digunakan di perangkat Android dan iOS. Ironisnya, aplikasi chatting WhatsApp yang dirilis pada 2009 juga kemudian mematikan kejayaan BBM.

RIM mencoba beradaptasi meski terlambat dengan merilis BlackBerry Storm pada 2008. Sayangnya perangkat ini memiliki masalah yakni keterlambatan reaksi pada layar sentuhnya. Hal ini membuat 1 juta unit Storm yang berhasil terjual, harus dikembalikan untuk diganti dengan yang baru. Bahkan, produk penggantinya pun banyak yang dikembalikan lagi karena masih bermasalah.

Pada 2010, RIM mencoba merilis tablet Playbook namun tidak disertai fitur email, kalender, atau aplikasi kontak, membuatnya kurang berguna bagi bisnis. Di tahun 2015, RIM mencoba berinovasi dengan menggunakan sistem operasi Android, namun juga gagal.

Di tahun 2016, Blackberry gagal memperoleh 1 persen pangsa pasar, sehingga pada akhirnya brand BlackBerry dijual ke perusahaan China TCL.

BlackBerry kemudian mulai melisensikan brandnya kepada manufaktur pihak ketiga. Pada Januari 2020, perusahaan OnwardMobility mengumumkan akan membuat perangkat Android 5G yang ditenagai BlackBerry yang hendak dirilis pada 2021, namun hingga pergantian tahun 2022, belum ada kabar lagi mengenai produk tersebut.

BlackBerry menjadi contoh nyata bagaimana terlena dalam kejayaan hanya untuk sesaat saja dapat menyebabkan sebuah kerajaan bisnis raksasa global runtuh begitu saja. Tentunya banyak kenangan yang kita buat saat masih menggunakan ponsel BlackBerry, namun akan lebih bijaksana jika kita bisa memetik pelajaran berharga dari sejarahnya.

 

(stefanus/IDWS)


Sumber: Interesting Engineering

Share    

IDWS Promo