Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat warga di area terdampak mulai menggunakan masker untuk melindungi pernapasan. Topik tentang membasahi masker agar debu terperangkap di luar masker, ramai dibincangkan di internet. Bagaimana tanggapan ahli terkait hal tersebut?
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru, sampaikan kepada detikHealth (7/9) bahwa tidak ada penelitian ilmiah yang mengkaji hubungan antara masker dibasahi atau tidak terhadap abu vulkanik. Hal itu membuat topik tersebut secara ilmiah tidak bisa dijawab secara pasti.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia itu menyebut masker tidak bisa melindungi 100 persen aman dari abu vulkanik jika kadar abu vulkaniknya sedang tinggi.
Ia tekankan pentingnya pemerintah berikan informasi faktual terkait kadar abu vulkanik, supaya masyarakat bisa lebih waspada. Hal ini juga terkait rekomendasi masker yang digunakan. Namun menurutnya masker N95 akan lebih bagus karena proteksinya lebih baik.
Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K) M.Pd.Ked. berikan jawaban terkait fungsionalitas masker dibasahi kepada Kesehatan Liputan6 (7/9). Dokter spesialis paru itu menyebut tidak ada rekomendasi membasahi masker, masker bedah dan masker kesehatan malah berkurang fungsinya jika basah.
Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, MSC, Sp.P(K) selaku dokter spesialis paru sekaligus Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, juga sampaikan pernyataan senada. Ia katakan, "kalau masker dibasahi, debunya malah lengket".
Terkait penggunaan air, Erlina menyarankan yang perlu dibasahi adalah pekarangan rumah supaya debu tidak berterbangan. Alasan serupa, membersihkan termasuk kaca, jendela, dan pintu juga harus dibasahi terlebih dahulu.
Sebelumnya pada September 2019 silam, topik ini juga pernah muncul ketika terjadi karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Dilansir CNN Indonesia (19/9/19), dokter ahli paru, Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Sp.P(K), FCCP, FISR, katakan bahwa masker basah memiliki konsekuensi debu-debu bisa cepat menutup pori pada masker, membuat penggunanya lama-lama jadi susah bernapas.
Ketika penggunanya susah bernapas, maka akan mencari rongga udara lain, baik di sisi kiri maupun kanan masker, untuk menghirup udara. Hal tersebut membuat udara tidak tersaring. Faisal menyarankan untuk mengganti masker secara rutin sesuai kondisi karena pori-pori masker cepat tertutup debu.