Merasa puas ketika bisa membeli barang sebelum kehabisan. Hal tersebut adalah alasan konyol yang membuat seorang penggemar anime berurusan dengan kepolisian. Perempuan bernama Mayu Yoshida (32) ditangkap Kepolisian Daerah Kanda, Tokyo, karena telah melakukan pembelian merchandise di Jump Characters Store (JCS) tanpa pernah melakukan pembayaran (4/8).
Mayu Yoshida adalah pegawai restoran yang tinggal di Suehiro-cho, Distrik Kita, Kota Osaka. Mengaku stres dengan kehidupan sehari-harinya, ia meluapkannya dengan cara membeli barang secara daring sebelum kehabisan stok untuk dapatkan kepuasaan. Toko daring yang ia tuju adalah JCS milik penerbit Shueisha yang menjual merchandise dari manga yang terbit di Weekly Shonen Jump (WSJ).
Bagaimana modus operandi dilakukan Mayu Yoshida? Pertama adalah dengan cara membeli barang dari JCS dalam jumlah yang besar dengan metode pembayaran melalui minimarket. Ia tidak pernah membayarnya sampai batas waktu ditentukan. Kedua adalah dengan metode COD, Mayu Yoshida selalu menolak menerima paket COD tersebut.
Jika pelaku tidak pernah menerima barangnya, lantas mengapa Shueisha mengusut kasus ini? Setiap ada pembelian, stok barang tercantum di JCS akan disesuaikan. Karena pembelian dilakukan dalam jumlah besar, Shueisha alami kerugian atas potensi penjualan. Sedangkan untuk metode COD, Shueisha alami kerugian biaya pengiriman barang.
Berdasarkan data diungkap kepolisian, Mayu Yoshida menggunakan 238 akun dalam kasus ini. Pelaku melakukan aksinya dari Oktober 2023 hingga Oktober 2025. Total harga barang yang Mayu Yoshida tidak bayar mencapai ¥4,3 miliar. Sedangkan untuk metode COD, ia telah menolak lebih dari 2.100 paket. Hal ini sebabkan Shueisha alami kerugian sekitar ¥7,5 juta untuk biaya pengiriman dan lainnya.
Sebagai penggemar anime, apakah Mayu Yoshida pernah membeli merchandise secara legal? Ia pertama kali membuat akun untuk membeli barang di JCS pada Oktober 2018. Namun karena alami stres dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ia mulai melakukan aksinya 5 tahun kemudian.