IDWS.ID

Bisnis

Nasib Mengenaskan Garuda Indonesia, Dikejar Utang Rp 196 Trilun dari Ratusan Kreditur

11 Jan 2022

Kreditur maskapai Garuda Indonesia mengajukan klaim penagihan utang hingga US$ 13,8 miliar dollar atau setara Rp 196,9 triliun (kurs Rp 14.269).

IDWS, Selasa, 11 Januari 2022 - Jumlah utang sebesar itu merupakan data yang ada dari tim pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Garuda Indonesia sampai 5 Januari 2022.

Mengutip pemberitaan detikcom melansir Bloomberg, Selasa (11/1/2022), ada lebih dari 470 kreditur yang mengajukan klaim berdasarkan laporan tim PKPU Garuda Indonesia yakni Martin Patrick Nagel dan Jandri Siadari. Untuk selanjutnya, pihaknya akan memverifikasi klaim yang masuk.

Setelah tahapan verifikasi selesai, tim PKPU akan memutuskan secara resmi pada 19 Januari 2022. Hal itu terkait nominal atau jumlah yang valid dan dapat dimasukkan dalam proses restrukturisasi.

Garuda Indonesia juga sudah mengambil cara untuk mencoba mengulur waktu. Perusahaan sedang berusaha untuk memperpanjang jatuh tempo kepada para pemegang sukuk atau surat utang syariah selama 10 tahun senilai US$ 500 juta.

Garuda Indonesia berencana mengurangi kewajibannya lebih dari 60% melalui proses restrukturisasi untuk bertahan dari pandemi. Berdasarkan proposal yang diajukan, perusahaan berencana untuk mengurangi kewajibannya dari US$ 9,8 milar menjadi US$ 3,7 miliar.

 

Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: Pixabay/Fariz Priandana)

 

Penyebab krisis keuangan Garuda Indonesia

Garuda Indonesia yang pernah jadi simbol kebanggaan rakyat Indonesia, kini berbalik menjadi seperti kanker dengan utang menggunung yang melilit perusahaan maskapai penerbangan berstatus BUMN itu.

Melansir pemberitaan IDWS pada 10 Juni 2021, leasing pesawat menjadi salah satu faktor utama neraca keuangan Garuda Indonesia minus parah. Hal ini disebabkan karena Garuda Indonesia menyewa pesawat dengan harga lebih tinggi dari seharusnya, ditengarai karena adanya oknum-oknum di internal Garuda yang melakukan kongkalikong untuk keuntungan pribadi. Praktik leasing rugi ini sudah terjadi selama bertahun-tahun hingga menjadi kanker.

Dan kemudian pandemi COVID-19 membuat penerbangan dihentikan, otomatis membuat Garuda Indonesia makin menjerit karena tidak memperoleh pemasukan sedangkan perawatan pesawat dan perlengkapan juga memakan biaya, memperparah kondisi keuangan Garuda Indonesia.

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: detikcom

 

Share    

IDWS Promo