Gara-gara Kasus Garuda, Pemilik Sepeda Brompton Kini Takut Kena Damprat Istri Hingga Dibegal
IDWS, Senin, 9 Desember 2019 - Sepeda Brompton kini tambah ngehits pasca terseret kasus Garuda. Akibatnya, harga asli Brompton mencuat ke pasaran, dan rupanya banyak yang baru tahu kalau ini harga sepeda ini selangit. Drama suami diomeli istri karena tidak jujur soal harga sepeda pun bermunculan.
Salah satunya Willy, pengguna sepeda Brompton Black Edition yang ditemui detikcom di kawasan CFD Bundaran HI. Ia mengaku tak dapat mengelak dan menutupi lagi setelah sang istri mengetahui harganya mencapai Rp 40 juta.
Harga selangit Sepeda Brompton jadi ketahuan gara-gara kasus penyelundupan Garuda. (Foto: Matthew Lloyd/Getty Images)
"Ya gitu mbak, gara-gara kasus Dirut Garuda kemarin saya jadi bingung bilang istri gimana. Saya bilangnya harganya ini Rp 5 juta, tapi waktu beritanya muncul istri saya marah-marah lah lihat harga aslinya," ungkapnya, Minggu (8/12/2019).
Bukan hanya ngeri kena omel istri, Willy dan temannya juga khawatir suatu saat istri-istri mereka akan merusak sepeda dengan harga selangit itu.
Sepeda Brompton yang juga dibawa pesawat Garuda Indonesia. Menurut Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi dilansir dari detikcom, harga satuan dari unit sepeda Brompton yang diselundupkan itu bisa mencapai Rp 52 juta. (detikcom/Vadhia Lidyana)
"Ya saya takut dirusak istri kalau ketahuan beli lagi, saya umpetin aja di mobil," pungkasnya diiringi tawa.
Willy, dan temannya Lukito dan Budi tak terdaftar sebagai komunitas Brompton Indonesia. Namun, mereka aktif dalam kegiatan bersepeda setiap Minggu menggunakan Brompton Black yang telah di-repaint (di cat ulang).
Harga sepeda Brompton yang selangit tengah jadi perbincangan belakangan ini. Sebagian pemilik jadi was-was takut jadi incaran begal alias penjahat.
Para pemilik sepeda Brompton kini jadi takut kena begal. (Foto; Achmad Reyhan Dwianto/detikhealth)
Hati-hati memang perlu, tetapi ketakutan berlebih tentu juga tidak baik. Karenanya, salah seorang pengguna sepeda lipat Brompton, Indra, lebih memilih melakukan antisipasi dengan tidak bersepeda sendirian.
"Sekarang ya enggak (takut), karena kita selalu beramai-ramai. Antisipasinya selalu beramai-ramai. Apalagi di Jakarta komunitasnya banyak," kata Indra, ditemui di Car Free Day (CFD) Jl Sudirman, Jakarta Pusat, pada Minggu (8/12/2019).
Meskipun begitu, rasa cemas saat bepergian mengendarai sepeda bagaimanapun tetap ada. Terlebih jika harus memarkirkannya di tempat umum.
"Apalagi kalau kita ke toko ada rasa was-was, seperti misalnya ke minimarket saya ingin memasukkan ke dalam, tapi 'pak parkir enggak boleh sepeda dimasukkan ke dalam'," ucap Indra.
(Stefanus/IDWS)