IDWS.ID

Berita Nasional

Dea Imut, Ketua Geng Remaja yang Rutin Organisir Tawuran Hingga Timbul Korban Tewas

25 Jun 2019

IDWS, Selasa, 25 Juni 2019 - Apa yang ada dalam benak seorang gadis berusia 16 tahun? Belajar? Fesyen? Pacaran? Mungkin itu adalah jawaban yang muncul dalam benak kalian.

Namun seorang gadis berusia 16 tahun dengan panggilan Dea Imut bakalan memutarbalik pemikiran tersebut. Bagaiamana tidak, meski ada kata imut dalam panggilannya, sepak terjangnya jauh dari kesan imut. Ia memimpin geng remaja dan rutin mengorganisir tawuran yang kerap memakan korban jiwa, hingga polisi pun kini tengah mengejarnya.

Dea Imut, usia 16 tahun yang berdomisili di Tangerang, disebut-sebut telah putus sekolah. Berbalik seratus delapan puluh derajat dari panggilannya, gadis ini seolah terlahir sebagai seorang gangser.

Minggu (9/6/2019) dini hari, Geng Syaraf 34 yang juga dijuluki "Kuta Bumi" pimpinan Dea Imut bentrok melawan geng Tangerang lainnya bernama Cadas. Tawuran ini menyebabkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun dari Geng Cadas tewas.

Polisi sudah meringkus 15 pemuda dari kedua geng, namun Dea Imut dan lima orang pengikutnya masih berada dalam pelarian. Dea tidak ikut hadir di lapangan untuk tawuran karena sebagai ketua geng, perannya ada di balik layar laiknya bos mafia.

Tugas Dea sebagai pemimpin antara lain mencari lawan, mengumpulkan eman dan menentukan tempat tawuran. Semua ia lakukan lewat media sosial Instagram. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komes Pol Argo Yuwono mengatakan bahwa Dea menentukan calon lawan gengnya secara acak namun lawan harus berdomisili di Tangerang.

Tak hanya karena insiden di atas, Dea sebenarnya sudah lama jadi buronan polisi karena gengnya sudah berkali-kali rusuh.

"Selama ini kalau mau tarung, dia (Dea Imut) yang cari musuhnya melalui IG. Dia yang tulis dan kirim [pesan tantangan kepada geng lawan]. Dia harus cari personel, siapa saja yang mau ikut. Kalau korban yang meninggal ini cabutan," terang Kapolsek Sepatan AKP I Gusti M.S, dikutip dari Sindonews.

Pada aksi tawuran terakhir sebelum kabur, Dea sanggup menggerakkan 20 pemuda untuk terlibat tawuran membela Geng Syaraf 34. Sepak terjang gadis belia ini terbilang cukup mumpuni hingga membuatnya dipercaya jadi ketua geng yang dipenuhi lelaki.

"Dia [Dea Imut] mengandalkan sosmednya [Syaraf 34]. Dia yang mengatur dan membuat janji tarung," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombe Pol Aro Yuwono, dilansir Sindonews.

Usai memperoleh calon lawan, Dea kemudian mendiskusikan tempat tawuran dengan lawannya. Argo juga membacakan percakapan antara Dea dan R, pemimping Geng Cadas terkait perencanaan tawuran. Dalam percakapan tersebut, terjadi diskusi antar keduanya mengenai lokasi mana yang dianggap netral. Pada akhirnya kedua pemimping geng ini sepakat tawuran digelar di sebuah sekolah dasar di Kampung Teriti, Kecamatan Sepatan, Tangerang.

Sepak terjang Dea Imut ini menambah daftar kekerasan remaja yang dipicu dari media sosial. Tahun lalu, juga di Kota Tangerang, sempat terjadi tawuran antar pelajar SMK Sasmita dengan SMK Bhipuri yang eberawal dari saling ejek di media sosial. Sementara itu, di Magelang, tawuran pelajar menewaskan Nasrul Aziz yang juga berawal dari saling tantang di media sosial.

Menurut pengamat media sosial Agus Sudibyo, saling ejek di internet mempunyai pengaruh besar sehingga dapat berujung pada perkelahian langsung di dunia nyata. "Media sosial menipiskan empati kita dengan lawan bicara. Maka kita cenderung berbicara semaunya sendiri," terang Agus kepada Kumparan.

Agus menyarankan agar pemerintah mengadakan lebih banyak seminar pendidikan mengenai penggunaan media sosial yang bijak. Menurutnya, penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab akan mempermudah pelajar merencanakan tawuran dengan lebih terstruktur, sistematif dan masif.

Hal tersebut diamini Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listiyarti. Kini, menurut Retno, perencanaan tawuran sering dilakukan pada dini hari ketika jalanan masih sepi dan sudah melibatkan tidak hanya teman satu sekolah.

Bahkan netizen Indonesia cenderung mendukung para keyboard warrior di media sosial agar saling baku hantam di dunia nyata. Hal ini dapat dilihat dari komentar-komentar para netizen seperti "gitu dong, kelahi" atau "tangan diciptakan untuk baku hantan."

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: Vice

Ilustrasi gambar: Yasmin Hutasuhut/Vice

Share    

IDWS Promo