IDWS.ID

Berita Internasional

Terungkap Identitas 'Ratu Penipu' yang Resahkan Hollywood dan Dicari FBI, Ternyata Pria Indonesia

28 Nov 2020

Con artist berjulukan "Hollywood Con Queen" telah menipu para anggota komunitas Hollywood, dan ternyata dia adalah orang Indonesia.

IDWS, Sabtu, 28 November 2020 - Con artist sendiri adalah istilah untuk menyebut penipu yang menipu dengan cara menyamar atau mengaku-aku sebagai orang lain demi mengelabui korbannya. "Hollywood Con Queen" sendiri dilaporkan "menyamar" menjadi sosok eksekutif yang dihormati di kalangan Hollywood, di mana korbannya adalah orang-orang yang memiliki aspirasi untuk berkarier di pusat industri film Amerika Serikat itu.

Kejahatan yang ia lakukan kurang lebih selama lima tahun itu bahkan menarik perhatian dari Badan Penyelidikan AS, FBI.

Lewat Apple Podcast berjudul "Chameleon: Hollywood Con Queen" episode 9, identitas con artist itu terkuak. Ia adalah pria Indonesia yang tinggal di Inggris bernama Hargobind Punjabi Tahilramani atau dikenal dengan sebutan "Gobind". Ia lahir pada 31 Oktober 1979 di Jakarta, Indonesia, di sebuah keluarga yang cukup berada dan lahir tepat pada hari Halloween — menurut Vanessa Origoriadis dan Josh Dean, wartawan yang menulis investigasi tersebut di Vanity Fair.

Melansir laporan BBC News Indonesia, Pejabat KBRI di London mengatakan bahwa tidak ada nama Hargobind Punjabi Tahilramani a.k.a Gobind dalam daftar database WNI KBRI London.

Gobind sendiri disebut telah menipu lebih dari USD 1 juta atau sekitar IDR 14 miliar dari para korbannya.

 

Punya dua komplotan di Jakarta

Gobind dilaporkan menipu dengan cara menirukan suara beberapa eksekutif Hollywood. Ia disebut memiliki bakat menirukan suara yang luar biasa, baik meniru suara pria maupun wanita. Salah satunya ia menirukan suara dari Wendi Deng, istri dari raja media Rupert Murdoch, untuk menipu orang lain. Menurut laporan Apple Podcast di atas, FBI menyebutkan bahwa korban penipuan Gobind sudah mencapai ratusan orang yang masing-masing ditipu hingga ribuan dollar.

Para korbannya terdiri dari para pembuat film pemula, konsultan sekuritas, pelatih kebugaran, ahli make-up dan tata rambut, serta masih banyak lagi yang bekerja di seputar industri film.

Mereka dibujuk untuk pergi ke Jakarta dengan iming-iming bekerja di industri film, di mana kemudian mereka dipaksa membayar uang di muka dan dijanjikan reimbursement nantinya. Tentunya uang tersebut tak pernah dikembalikan.

Nicoletta Kotsianas, direktur K2 Intelligence yang disewa oleh eksekutif Hollywood yang ditiru suaranya untuk penyelidikan penipuan ini, mengatakan penipu kemungkinan menghasilkan antara US$1,5 juta sampai US$2 juta secara total.

"Para korban mengatakan mereka menyerahkan ratusan dolar per hari kepada supir sebagai 'biaya transportasi' dan sering juga ratusan dolar untuk 'izin foto' atau biaya lain yang disebut penting," tulis Vanessa Grigoriadis dan Josh Dean.

"Di Inggris, dia dikenal sebagai orang yang berpengaruh dalam makanan melalui Instagram di bawah nama Pure Bytes and ISpintheTales. Dalam video sosial media, Tahilramani, yang belum menanggapi banyak permintaan kami untuk berkomentar, bermuka bulat dengan senyum ramah," tambah mereka.

"Ratu (Gobind) itu, menurut polisi Indonesia, memiliki paling tidak dua komplotan di Jakarta, yang menagih biaya. Menilik informasi yang kami dapatkan dari korban ... Ratu Penipu biasanya mendapatkan beberapa ribu dolar per korban - selain mereka yang ditipu beberapa kali, dan bolak balik ke Indonesia dan masih berharap untuk mendapatkan karier besar," katam mereka berdua

.Dalam percakapan September lalu dengan Haseena Rains Bharata melalui Instagram, "Dia menggambarkan diri sebagai pria lajang yang tinggal di London (walaupun sekarang tampaknya tinggal di Manchester), senang berolahraga dan mandi air dingin."

Dalam percakapan dalam bahasa Inggris itu, ia menyelipkan bahasa Indonesia, dia tidak suka mandi air hangat karena akan merasa, "Aduh, tenang, ingin tidur."

Dalam percapakan itu, ia juga mengatakan pengalaman masa kecilnya yang tak mengenakkan karena sering dipanggil "banci".

Ia juga mengatakan ia bertolak ke London dan mendapatkan hak tinggal di Inggris melalui pengacara di Hong Kong, karena ibunya lahir di wilayah China itu.

 

Penyelidikan sampai Indonesia

Titik terang dalam penyelidikan untuk mengungkap Ratu Penipu ini mulai terbuka ketika ditemukan paspor palsu melalui salah seorang korban, penulis skenario film, Greg Mandarano, dari Long Island.

Mandarano telah bertemu dengan si ratu enam kali dan dia kenal sebagai Anand Sippy (nama palsu lain). Mandarano juga memiliki foto-foto orang ini, serta salinan paspor (Indonesia) dengan nama berbeda Gobind Lal Tahil.

Nama Gobind juga ternyata palsu. Namun dari foto-foto yang dikirim ke Ben Decker, penyelidik informasi salah pada platform digital, ditemukan bahwa Gobind Lal ternyata terkait dengan pria Indonesia lain bernama Rudy Sutopo.

Kedua nama ini ditemukan melalui pengumuman satu perusahaan Indonesia yang meminta hak serial asing serial berjudul The Black Widow, yang rencananya akan diproduksi oleh dua pria itu. Decken juga menemukan banyak hal tentang Rudy Sutopo, pengusaha Indonesia yang sempat dipenjara. Rudy Sutopo tidak dapat dikontak namun mantan istri yang tidak mau disebut namanya menyebutkan bahwa Gobind - nama panggilan Tahilramani - adalah murid Rudy.

Mantan istri Rudy ini juga mengatakan keduanya bertemu di penjara Cipinang, dan Rudy sering melindungi Gobind. Mantan istri Rudy ini menyebut Gobind saat ini tengah naik daun, tinggal di London dan bekerja untuk HBO, juga sebagai blogger makanan.

"Dia selalu mendengar kabar dia (Gobind). Hampir setiap hari, namun selalu melalui pesan langsung DM (direct message), dari salah satu dari banyak akun media sosialnya," tulis Vanity Fair. Artis ini menyebut Tahilramani "teman baik namun tidak tahu nama keluarganya".

"Dia juga tidak punya nomor telepon atau email. Mereka sering kontak, namun Gobind yang mengawali. Keanehan ini tak pernah ia curigai, sampai kami memberi tahu dia tentang penipuan," tulis Vanessa Grigoriadis dan Josh Dean.

 

FBI cari para korban

Sejak Juli lalu, FBI lewat situsnya mengatakan "mencari korban yang mungkin pernah pergi ke Indonesia antara 2013 sampai saat ini untuk mengejar tawaran kerjaan dari individu-individu yang mengklaim sebagai profesional dalam industri hiburan".

"Dalam skema penipuan transnasional yang masih berlangsung dengan sasaran warga AS, para korban dikontak dengan teks, email atau telepon dengan tawaran pekerjaan mewah dalam industri hiburan; para korban sampai saat ini termasuk penulis, artis pengganti, artis rias, jasa keamanan dan fotografer," tulis FBI.

"Para korban diberitahu bahwa pekerjaan mensyaratkan mereka untuk ke Indonesia, biasanya ke Jakarta untuk apa yang disebut mencoba jasa mereka. Begitu tiba di Indonesia, mereka ditemui seorang supir dan dipaksa memberikan uang dolar Amerika untuk jasa supir."

"Para korban diminta untuk terus membayar jasa lain dan biaya lain sampai perjalanan selesai atau mereka sadar mereka telah ditiupu. Para korban tidak mendapat penggantian biaya perjalanan atau biaya lain saat di Indonesia," tambah FBI lagi.

"Untuk informasi, ini adalah penipuan yang masih berlangsung, dan mereka yang berencana untuk ke Indonesia untuk peluang kerja dalam industri hiburan harus melakukan riset tambahan dan berhati-hati," kata Biro Penyelidik Federal.

FBI - menurut Vanity Fair - tengah bekerja sama dengan kepolisian Inggris, Scotland Yard, untuk mengungkap lebih lanjut tentang penipuan terkait pria yang diduga tinggal di Inggris.

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: Vanity Fair, BBC News Indonesia, Appe Podcast

Gambar Fitur: AP Images

Share    

IDWS Promo