IDWS.ID

Berita Nasional

Viral Garuda Indonesia yang Melaporkan Vlogger Rius Vernandes Karena 'menu dengan tulisan tangan'

17 Jul 2019

IDWS, Rabu, 17 Juli 2019 - Tengah riuh kasus vlogger Rius Vernandes dan temannya Elwiyana Monica yang menerima surat panggilan dari kepolisian resor kota Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (16/7/2019) terkait unggahan video perjalanan kelas bisnis pesawat Garuda Indonesia yang menyediakan "menu dengan tulisan tangan."

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Guys, gw sama elwi dapat panggilan dari polisi mengenai masalah ini. Kami di laporkan atas dugaan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik. Gw yakin kalian tau kalau gw TIDAK ADA maksud sama sekali untuk mencemarkan nama baik siapapun. ? ? Gw sangat minta support kalian soal ini. Semua nya. Siapa pun. Kalian semua punya suara. Terutama teman2 influencer. Gw harap kalian bisa bantu share dan support gw dalam masalah ini karena gw gak mau di masa depan ketika kita review sesuatu dengan apa adanya, ketika kita memberikan kritisi yang membangun, kita bisa di pidana. ? ? Gw akan menghormati segala peraturan hukum yang ada dan akan menjalani semua ini. Gw sama sekali tidak merasa mencemarkan nama baik. Gw tidak takut. Tapi tidak ada kah cara yang lebih kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah ini?

A post shared by Rius Vernandes (@rius.vernandes) on

 

Rius mengaku dilaporkan atas tindak pidana pencemaran nama baik usah mengunggah video perjalanan bersama Garuda Indonesia rute Sidney-Denpasar-Jakarta. Ia juga mengunggah surat pemanggilan dari polisi tersebut ke akun Instagramnya untuk meminta dukungan dari semua pihak termasuk dari para influencer.

Ia mengungkapkan tak ingin kasus di mana review yang jujur berakhir dengan pemidanaan ke depannya.

 

 

Kasus bermula ketika Rius mengunggah review perjalanannya naik pesawat Garuda Indonesia pada Minggu (14/7/2019) ke YouTube di mana ia menyoroti menu makanan yang disajikan pramugari "dalam secarik kertas dengan tulisan tangan."

Rius yang duduk di kursi kelas bisnis bingung karena bentuk menu makanan yang tidak lazim dan "pantas" itu disodorkan ke seluruh penumpang. "Jadi ketika pramugarinya datang ke bangku kita, kita baru dikasih lihat menu yang dicatat itu," katanya.

 

"Catatan pribadi awak kabin"

Dalam video tersebut, Rius juga sempat membandingkan menu makanan antara Garuda Indonesia dengan maskapai lainnya seperti Oman Air, Thai Airways, Japan Airlines dan Singapore Airlines.

Rius yang bepergian bersama temannya, Elwiyana, juga sempat mengomentari menu tulisan tangan yang dianggapnya lebih "ada sentuhan manusia" terutama ketika pramugari menawarkan dengan sopan dan menjelaskan bahwa "kartu menu tidak tersedia karena dalam proses pencetakan. Foto menu unik itu juga ia unggah di Instagram Story.

 

Secarik kertas yang disajikan pramugari Garuda Indonesia kepada Rius Vernandes berisi menu-menu yang tersedia bagi penumpang, sekaligus kertas yang jadi topik utama kasus ini. (YouTube/Rius Vernandes)

Juru bicara Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, membantah secarik kertas dengan tulisan pilihan menu itu sebagai menu.

"Jadi sebenarnya itu bukan [kartu menu]. Kita punya kartu menu, cuma yang difoto itu catatan awak kabin pribadi. Itu kan tulis tangan, catatan pribadi awak kabin. Nah pertanyaannya, kenapa dia share itu sebagai kartu menu," kata Ikhsan dikutip dari Kompas.com.

Menariknya, begitu kasus tersebut mencuat, Garuda Indonesia langsung mengeluarkan surat pengumuman larangan bagi penumpang dan awak kabin untuk mengambil gambar di pesawat. Lucunya, kurang dari 24 jam sejak diumumkan, larangan tersebut "diralat" dengan alasan aturan tersebut belum final dan hanya untuk konsumsi internal. Dari "larangan" menjadi "imbauan" dengan dalih menjaga privasi seluruh penumpang dan awak pesawat.

"Garuda Indonesia berkomitmen untuk menjaga privasi seluruh penumpang dan awak pesawat. Imbauan ini juga didasarkan atas laporan, saran dan masukan pelanggan/penumpang yang merasa tidak nyaman dan terganggu dengan adanya pengambilan gambar dan kegiatan dokumentasi tanpa izin sebelumnya dari yang bersangkutan," kata Ikhsan dikutip dari BBC News Indonesia pada Selasa (16/7/2019).

 

Reaksi berlebihan Garuda Indonesia

Menurut Pengamat Penerbangan dari Aviatory Indonesia, Ziva Narendra Arifin, kasus "menu makanan dengan tulisan tangan" itu tidak mencerminkan buruknya kualitas layanan. Menurutnya kualitas layanan dalam kabin maskapai-maskapai di Indonesia secara keseluruhan di atas rata-rata maskapai global, dilansir dari BBC News Indonesia.

Persoalan "tulisan tangan" pada menu makanan, lanjut Ziva, justru karena masalah profesionalitas dari pihak maskapai.

"Kejadian yang penerbangan kemarin itu saya tidak melihat itu sebagai bentuk service quality yang rendah, justru saya melihat dari sisi perencanaan," katanya.

Lebih lanjut, Ziva mengatakan semestinya pihak maskapai sejak awal memberi informasi tentang ini sebelum pesawat lepas landas. Bisa saat penumpang mengkonfirmasi keberangkatan, atau melalui surat elektronik.

"Jadi pada saat penerbangan tak perlu ditanya lagi mau apa," katanya.

Selain itu, tindakan pelaporan kepada dua penumpang Garuda Indonesia karena mempublikasikan video presentasi menu dengan tulisan tangan "berlebihan".

Menurut Ziva, video tersebut tidak mengandung unsur "mencemarkan nama baik". Ia menyebut hal itu lumrah dilakukan seorang vlogger yang sedang mengkaji suatu subjek tertentu.

"Biasanya mereka me-review konten yang sama. Mulai dari kenyamanan, proses check-in dan pesawatnya. Tapi, pasti akan kelihatan kalau tujuannya untuk menjelekkan satu maskapai [secara] spesifik," kata Ziva.

Wakil Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, menilai dokumentasi tetap diperlukan oleh konsumen, seperti penumpang pesawat.

Menurutnya, melalui dokumentasi ini konsumen dapat memberi saran kepada pihak manajemen untuk meningkatkan kualitas, baik layanan maupun infrastruktur.

"Konsumen kalau memberi masukan itu perlu ada evidence (bukti), salah satu evidence-nya kan foto atau bukti rekaman. Misalnya, menu dalam tulisan tangan," kata Sudaryatmo, Selasa (16/07).

Sudaryatmo melanjutkan, ketika seorang penumpang pesawat mengeluhkan layanan atau infrastruktur sebaiknya dilaporkan terlebih dahulu ke pihak manajemen.

Ketika pihak manajemen tidak menghiraukan keluhan tersebut, konsumen bisa mempublikasikan bukti keluhannya kepada publik. "Itu bagian dari supaya ada tanggapan," katanya.

Dalam status yang diunggah Rius melalui Instagram, ia sudah melaporkan hal ini ke pihak layanan kosumen Garuda Indonesia.

Di dalam video YouTubenya, Rius juga mengaku tidak mempermasalahkan menu tulisan tangan.

Persoalan tersebut sudah dianggap selesai ketika pramugari meminta maaf karena kartu menu makanan sedang dalam proses percetakan.

 

 

Lucunya, putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep, memposting foto selfie dirinya dan sekeluarga, lengkap dengan Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana pada Selasa (16/7/2019) tampak berada dalam kabin penumpang pesawat. Meski tidak menyebutkan nama Maskapai, caption Kaesang Pangarep jelas menyiratkan sindiran terhadap reaksi berlebihan Garuda Indonesia terhadap Rius Vernandes.

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: BBC News Indonesia, Instagram/rius.vernandes

Share    

IDWS Promo