IDWS.ID

Berita Internasional

Alur Cerita dari Misi Penyelamatan 12 Bocah Anggota Tim Sepakbola & Sang Pelatih yang Terjebak Dalam Gua di Thailand

13 Jul 2018

Tim Sepakbola Muda 'Wild Boars' yang terjebak di dalam gua selama 18 hari. Foto: CNN

 

Meskipun mungkin banyak dari kita yang merasa ragu dan mempertanyakan seperti apa perilaku dasar atau sering disebut 'naluri alami" manusia, kisah penyelamatan 12 bocah pemain sepakbola dan seorang pelatihnya bisa menjadi tolak ukur bagi kamu-kamu yang merasa bahwa naluri alami manusia adalah untuk menyakiti makhluk lain dan bahkan sesama manusia sendiri. Setidaknya kamu bisa mempertimbangkan jika semua manusia pada aslinya terlahir bukan sebagai orang jahat maupun baik. 

 

Foto: The Guardian

 

Foto: Javier Zarracina/Vox

 

 

Banyak orang dari berbagai belahan dunia datang untuk menolong 12 bocah malang dan seorang pelatih mereka yang terperangkap dalam gua di Thailand Utara yang sangat dalam karena air pasang. Tak peduli ras, warna kulit, atau bahasa, mereka berbondong-bondong datang secara sukarela, baik dengan biaya sendiri atau dibiayai pihak lain dan saling bergotong royong untuk menyukseskan misi penyelamatan yang terbilang sangat berbahaya tersebut. 

Indowebster ingin menyampaikan rangkuman serta jalan cerita dari kisah heroik nan menyentuh ini kepada kalian. Yuk kita saksikan sama-sama!

 

23 Juni

Cerita dramatis ini bermula ketika 12 bocah (berusia 11-16 tahun) dan sang pelatih (25 tahun) dari tim sepakbola remaja 'Wild Boars' menjelajahi gua Tham Luang Nang Non pada tanggal 23 Juni seusai latihan pagi dan terjebak di sana karena air membanjiri gua. Mereka memang rutin mengunjungi gua tersebut sebagai bagian dari latihan sekaligus rekreasi bagi tim sepakbola remaja tersebut, namun penjelajahan mereka kali ini malah berujung petaka yang nyaris merenggut nyawa mereka. 

Orang tua dari bocah-bocah tersebut mulai panik saat mendapati anak-anak mereka tidak pulang pada malam harinya dan tak bisa dikontak, lalu mereka pun meminta pihak berwajib untuk membantu pencarian. Sepeda-sepeda milik bocah-bocah tersebut di temukan terparkir di mulut gua dalam posisi terkunci. Pencarian terus dilakukan hingga tengah malam. 

 

24 Juni

Tim pencari serta tim penyelatam yang terdiri dari pihak berwajib lokal, polisi, dan petugas penyelamat menemukan sepatu sepakbola dan tas punggung milik anak-anak tersebut yang tertinggal di dekat mulut gua. 

 

25 Juni

Setelah pencarian meluas, jejak-jejak kaki dan tangan yang diperkirakan milik para bocah tersebut ditemukan lumayan jauh dari muluh gua. Para orang tua mulai berdoa untuk keselamatan anak-anak mereka. 

 

26 Juni

Beberapa anggota dari Angkatan Laut Thailand dan para pencari lainnya memasuki gua, namun menteri dalam negeri Thailand, Anupong Paojinda mengatakan kepada reporter bahwa mereka terhalang oleh air yang berlumpur yang memenuhi lorong-lorong gua hingga mencapai atap gua. 

 

27 Juni

Hujan deras semakin menyulitkan pencarian. Lorong-lorong gua yang berada di bawah tanah tersebut dimasuki air yang membanjiri mereka lebih cepat dibandingkan dengan volume air yang dipompa keluar oleh  tim penyelamat. Sebuah tim penyelamat dari Amerika Serikat, beberapa ahli gua dari Inggris, dan beberapa tim dari negara-negara asing berdatangan untuk bergabung dalam operasi penyelamatan tersebut. 

 

28 Juni

Mulai dilakukan usaha untuk memompa air dari gua keluar. Sebuah pencarian dilakukan untuk mencari pintu masuk gua alternatif karena kondisi tidak memungkinkan untuk melakukan penyelaman. 

Proses pemompaan air keluar dari gua. Foto: 9gag

 

29 Juni

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-ocha mengunjungi lokasi gua dan mengajak keluarga para korban untuk tidak kehilangan harapan mereka. Usaha untuk mengerngkan gua mulai sedikit menunjukkan hasil. 

Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-o-cha bersalaman dengan beberapa keluarga dari anak-anak yang terperangkap

 

30 Juni

Usaha untuk menemukan anak-anak yang hilang tersebut mulai bertambah cepat seiring dengan berhentinya hujan yang membuat banjir di dalam lorong-lorong gua mulai berkurang, serta datangnya bala bantuan dari Australia dan Cina ke misi penyelamatan tersebut. Sebagai antisipasi jika misi berhasil, sebuah latihan penyelamatan dilakukan untuk melatih bagaimana bocah-bocah tersebut akan dibawa ke rumah sakit setelah dikeluarkan dari gua. 

Foto: Elon Musk/Twitter

 

 

1 Juli

Para penyelam penyelamat berhasil memasuki jalur utama di dalam gua dan membuat area check point di dalamnya untuk tempat beristirahat para penyelam sebelum melanjutkan perjalanan berbahaya tersebut. Angkatan Laut Thailand berhasil mencapai tikungan sepanjang 1km dimana jalur tersebut terbelah menjadi dua arah. 

 

2 Juli

 

Ke 12 anak yang terperangkap di dalam gua

 

Dua penyelam ahli eksplorasi gua dari Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, berhasil menemukan ke 12 bocah dan sang pelatih yang hilang kurang lebih 1,5km dari mulut gua. Mereka merekam sebuah video bagaimana anak-anak tersebut berkomunikasi dengan keduanya.

 

Sang pelatih Wild Boars, Ekkapol Ake Chantawong (paling kiri), 25 tahun, yang ikut terperangkap dalam gua. Anak kecil di tengah adalah Chanin Viboonrungruang, 11 tahun, juga termasuk dari 12 anak yang terperangkap

 

Di luar dugaan, anak-anak tersebut berada dalam kondisi yang cukup sehat serta bersemangat setelah terkurung dalam gua selama 10 hari. Belakangan diketahui bahwa sang pelatih mengajak bocah-bocah tersebut untuk melakukan meditasi agar mereka tenang dan menghemat energi. Seorang bocah bernama Adul Sam-on yang cukup fasih berbahasa Inggris memudahkan Rick dan John untuk berkomunikasi dengan anak-anak dan sang pelatih, di situasi yang berbahaya dan waktu yang semakin mendesak. Anak-anak tersebut juga menuliskan pesan kepada orang tua dan sanak saudara mereka masing-masing. 

 

 

3 Juli

Video tersebut dirils dan menunjukkan bagaimana anak-anak tersebut bergantian memperkenalkan diri dengan melipat tangan mereka -- salam tradisional Thialand -- serta menyebutkan nama masing-masing. Mereka juga mengatakan bahwa mereka sehat. Salah satu dari anak-anak tersebut terlihat mengenakan replika baju timnas Inggris berwarna merah. 

 

4 Juli

Tujuh anggota Angkatan Laut Thailand Thailand dan seorang dokter bergabung bersama anak-anak tersebut dengan membawa makanan serta obat-obatan. Opsi-opsi akan prosedur penyelamatan mulai didiskusikan. Apakah mereka akan dibawa keluar gua bersama para penyelam atau menunggu situasi dan kondisi gua menjadi lebih baik dan tidak terlalu beresiko. 

 

5 Juli
Ke 12 anak mulai diajari cara menyelam untuk berjaga-jaga seandainya diputuskan bahwa mereka harus melewati rute yang dibanjiri air. Usaha untuk memompa air keluar terus ditingkatkan. 

 

6 Juli

Pihak berwajib mengindikasikan bahwa mereka lebih condong pada keputusan untuk mengeluarkan anak-anak tersebut secepat mungkin dengan alasan banjir di dalam gua akan semakin bertambah seiring dengan ramalan hujan deras menurut para ahli cuaca. Kekhawatiran akan semakin menipisnya oksigen di dalam gua juga disuarakan seiring dengan meninggalnya Saman Kunam, 38 tahun, seorang pensiunan Angkatan Laut Thailand yang turut serta dalam misi penyelamatan tersebut. Saman bertugas untuk menempatkan tangki oksigen di sepanjang jalur keluar yang sudah dipersiapkan, namun ia sendiri malah pingsan karena kehabisan oksigen dan akhirnya meninggal. 

ia ditemukan kurang lebih setengah mil dari lokasi tempat ke 12 anak dan pelatihnya itu terjebak. Pertolongan telah diberikan namun sayangnya Saman tetap tak tertolong. 

Saman Kunam, sang pahlawan yang meninggal dalam misi penyelamatan 12 bocah tim sepakbola Thailand dan pelatih mereka yang terjebak di dalam gua

 

7 Juli

Pihak berwajib menyatakan bahwa evakuasi bawah air akan dilakukan dalam beberapa hari kedepan terkait dengan prediksi akan hujan badai. Akan tetapi mereka juga mengatakan bahwa keahlian menyelam anak-anak tersebut belum mencapai ke level yang dibutuhkan. 

 

8 Juli

 

 

Para anggota tim penyelamat mulai bersiap untuk mengeluarkan anak-anak yang terjebak. Foto: Lillian Suwanrumpha/AFP/Getty Images

 

Pihak berwajib yang mengepalai operasi penyelamatan tersebut mendeklarasikan bahwa "D-Day" telah datang dengan mengumumkan dimulainya operasi untuk membawa anak-anak yang terperangkap dan pelatih mereka keluar dari gua. Penyelam berhasil membawa keluar 4 orang anak melalui jalur yang sangat sempit dan dipenuhi air.

 

Foto: Vox

 

 

Prosedur operasi mengharuskan anak-anak tersebut untuk diberi obat penenang agar tidak panik di tengah jalan, dan dibawa keluar oleh dua orang penyelam untuk setiap anaknya menggunakan stretcher. 

 

Angkatan Laut Thailand memposting sebuah foto dimana tiga anggota dari tim penyelatam yang akan masuk ke dalam gua, saling memegang pergelangan tangan satu sama lain dengan caption: "Kami adalah ANGKATAN LAUT THAILAND bersama dengan tim penyelam internasional siap untuk membawa tim sepakbola tersebut pulang!"

 

 

 

 

 

9 Juli

Para penyelam berhasil membawa keluar empat orang anak lagi dari dalam gua dengan selamat. Tinggal empat orang anak tersisa plus pelatih mereka di dalam gua tersebut. 

 

 

10 Juli

 

 

Pada hari ketiga sejak diumumkannya D-Day, para penyelam anggota tim penyelamat berhasil mengeluar empat orang anak terakhir dan pelatih mereka dari dalam gua, mengakhiri ujian berat yang telah berlangsung lebih dari dua minggu ini.  

 

CEO dari SpaceX, Elon Musk juga mengutarakan niatnya untuk membantu dan telah mengirimkan timnya ke lokasi kejadian. Namun kapal selam mini buatan timnya dianggap kurang praktis untuk misi tersebut dan pada akhirnya tidak terpakai. 

Operasi penyelamatan ke 12 bocah dan pelatih mereka ini bisa dibilang benar-benar menyiksa, berbahaya, serta berpacu dengan waktu dan cuaca. Salah satu dari dua penyelam Inggris yang pertama kali menemukan lokasi tempat bocah-bocah itu terperangkap saja hampir menyerah dan mengatakan "Ini gila", namun mereka akhirnya tetap nekad kembali mencari dan 3 jam kemudian baru mereka berhasil menemukan lokasi pasti dari anak-anak malang itu. 

Masalah utama selain cuaca dan ketinggian air, adalah sebuah seksi dari jalur menuju ke lokasi anak-anak terperangkap yang dinamai "T-Junction" yang begitu kecil, memaksa penyelam musti melepas tangki oksigen mereka agar bisa melewatinya.

Setelah melewati T-Junction, para penyelam memasuki sebuah gua besar yang diberi nama Chamber 3, yang digunakan untuk tempat beristirahat bagi para penyelam sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi anak-anak terperangkap. 

Tidak hanya itu saja, operasi penyelamatan ini mendapatkan dukungan dari banyak perusahaan teknologi. Mulai dari perusahaan minyak dan gas PTT Exploration and Production Public Company Limited yang menyumbangkan 3 drone dengan kamera thermografi untuk menciptakan peta tiga dimensi dan membantu mereka yang mengebor dinding gua dan juga beberapa robot serta sonar, pipa, dan pompa air. 

Maxtech Networks menyuplai 19 perangkat seperti radio yang bisa membuat komunikasi nirkabel menjadi mungkin di dalam gua. Dan tentunya masih banyak lagi perusahaan-perusahaan yang membantu. 

Selain itu orang-orang sekitar juga turut membantu sebisanya dengan membawakan makanan, lauk, minuman, memberikan laundry gratis, dsb. Hal ini setidaknya membuktikan bahwa masih banyak orang, yang masih bisa tersentuh untuk menolong orang yang tak mereka kenal dengan bertaruh nyawa, tanpa imbalan apapun! Salut Thailand! Salut Wild Boars! 

Share    

Hot Article

IDWS Promo

IDWS Event