Kondisi memprihatinkan diungkap Ida Pramuwardano selaku Plh Direktur Meteorologi Publik Badan Metereorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam sebuah diskusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, para hari ini (10/9).

Dilansir TribunNews (10/9), Ida Pramuwardano menyebut kondisi radar cuaca milik BMKG sebagai contohnya. Ia katakan bahwa BMKG membutuhkan 75 radar, sedangkan yang dimiliki BMKG saat ini adalah 45 radar saja.

Selain kuantitas yang kurang, kondisi radar banyak yang sudah tua, usang, sudah hampir 20 tahun. Melihat kondisi tersebut, sebenarnya revitalisasi perlu sekali untuk dilakukan.

Sayangnya, upaya revitalisasi atau peremajaan terhadap infrastruktur pendeteksi cuaca dan potensi bencana ini menemui titik buntu karena butuhkan biaya sangat tinggi. Terlebih lagi, menghadapi kondisi efisiensi anggaran negara saat ini.

Disebut BMKG saat ini hanya bisa mengatasi keterbatasan dengan memaksimalkan perawatan berkala pada alat-alat yang sudah tua. Upaya ini dilakukan untuk pastikan data kebencanaan tidak melenceng.

BMKG juga ungkap kendala lain di lapangan. Disebutkan sejumlah sensor gempa di lapangan telah hilang dicuri oleh oknum masyarakat. Hal ini sangat mengganggu sekali karena satu jaringan hilang itu bisa mempengaruhi kualitas data, sehingga berpotensi mengganggu sistem alerting dan sebagainya.

Terkait hilangnya beberapa sensor yang dicuri, Ida Pramuwardano menyinggung pentingnya edukasi terhadap masyarakat. Misalnya saja edukasi bahwa hilangnya sensor dapat menyebabkan permasalahan apa saja. Ia tegaskan hilangnya satu titik pengamatan bisa picu efek domino yang rugikan upaya penyelamatan nyawa masyarakat secara luas.