IDWS.ID

Bola Internasional

Real Madrid Pecat Lopetegui Usai Kekalahan Melawan Barca & Mengumumkan Santiago Solari Sebagai Pelatih Pengganti

30 Oct 2018

Setelah start yang buruk di awal musim 2018-2019 — 4 kekalahan dari 10 laga La Liga, hingga akhirnya terjerembab ke posisi 9 klasemen sementara, ditambah dengan kekalahan memalukan 5-1 dari rival abadi Barcelona di Camp Nou pada Minggu (28/10) malam, Real Madrid akhirnya memecat pelatih Julen Lopetegui.

 

Julen Lopetegui, pelatih yang baru saja dipecat Madrid. Ia menjadi pelatih Madrid pada era kepresidenan Florentino Perez tersingkat dengan hanya melatih selama 139 hari. Sebelumnya ia juga didepan oleh timnas Spanyol sehari sebelum Piala Dunia 2018 karena nekad menerima tawaran melatih Madrid. (Foto: PA)

IDWS, 30 Oktober 2018 - Madrid telah mengumumkan pengganti Lopetegui, yakni mantan pemainnya Santiago Solari. Suatu keputusan yang cukup mengejutkan mengingat Solari sendiri tidaklah terlalu punya nama, bahkan di Spanyol.

 

30 Oktober 2018, Santiago Solari resmi diumumkan sebagai pengganti Julen Lopetegui yang dipecat Real Madrid setelah kekalahan telak dari Barcelona 5-1. (Foto: Bleacher Report Football)

Maka dari itulah, pengangkatan Solari dianggap hanyalah sebagai caretaker alias pelatih sementara saja. Dan publik menganggap akan ada nama besar yang duduk di kursi pelatih Madrid nantinya.

Nasib Lopetegui memang sulit untuk dirubah setelah kekalahan memalukan pada laga El Clasico melawan Barcelona yang berakhir dengan skor telak 5-1 bagi keunggulan tuan rumah. Isu paling santer yang beredar sebagai pengganti Lopetegui adalah mantan pelatih Chelsea, Antonio Conte.

Akan tetapi, Conte menolak beberapa klausul yang diajukan presiden Madrid, Florentino Perez. Dan dengan posisi Lopetegui yang sudah tidak terampuni lagi, klub ibukota Spanyol tersebut pun memutuskan untuk mempromosikan pelatih Real Madrid B, yang tak lain adalah Santiago Solari.

Dalam beberapa hal, banyak kemiripan antara jalur yang ditempuh Solari dengan mantan rekan setimnya Zinedine Zidane sebelum eks penggawa timnas Prancis tersebut ditunjuk sebagai manajer El Real pada 2014.

Mereka berdua bermain bersama sebagai pemain aktif pada awal masa kepemimpinan Perez sebagai presiden klub, di mana Solari yang berposisi sebagai pemain sayap mengantongi 148 penampilan bersama Madrid pada periode 2000 hingga 2005, meski pun kebanyakan hanya dari bangku cadangan.

Solari kemudian hijrah ke Inter Milan sebelum kemudian mengakhiri karirnya di Amerika Selatan. Lalu ia kembali ke Bernabeu sebagai pelatih tim muda Madrid pada tahun 2013 dan kemudian diangkat lagi menjadi pelatih Real Madrid B (Real Madrid Castilla) pada 2016, tak lama setelah Zidane meninggalkan posisi tersebut untuk melatih tim utama.

Jadi bisa dibilang, Solari sekarang menapaki jejak yang sama dengan Zidane: Orang kepercayaan Perez yang pernah bermain di Madrid di era awal 2000an dan kemudian menduduki kursi pelatih Castilla, sebelum kemudian naik jabatan lagi menangani skuad senior karena krisis pertengahan musim.

Apakah itu semua berarti Solari bisa menjadi the next Zidane? Tidak, tentu tidak.

 

Yang membedakan Solari dengan Zidane

Santiago Solari (kiri) Raul Gonzalez, dan Zinedine Zidane (kanan) semasa masih bermain bersama bagi Madrid. (Foto: Chema Rey/MARCA)

Kemiripan antara jejak Solari dan Zidane sayangnya hanya sampai di situ saja. Zidane telah lama memang disiapkan untuk menjadi pelatih tim senior sejak lama oleh Perez, di mana ia menghabiskan musim 2013-2014 sebagai asisten dari pelatih tim senior saat itu, Carlo Ancelotti.

Zidane sendiri juga adalah legenda Madrid, ikon yang tak tersentuh yang akan selalu diingat sebagai salah satu pemain terhebat yang pernah dimiliki Madrid dalam sejarah panjang klub ibukota tersebut, dan juga merupakan duta besar bagi klub dengan kepribadian karismatiknya yang mampu menjamin respek datang dari setiap orang di klub, baik pemain, staff, jajaran direksi, hingga para suporter.

Solari sangat berbeda dengan ZIdane dari aspek ini. Dia bukanlah pemain bintang ketika masih aktif bermain di Bernabeu, dan hanya dianggap sebagai "hanya salah satu pemain" oleh suporter.

Tak seperti Zidane pula, ia tak pernah berkolaborasi dengan tim senior atau tim senior di klub lain sebagai pelatih. Dan hasil yang ia peroleh dalam melatih Real Madrid B pun bisa dibilang sangat medioker, mengakhiri musim di peringkat 8 dan 11 dalam dua musim ia menjadi pelatih.

Dan meski bisa dibilang Solari adalah salah satu orang kepercayaan Perez, ia bisa dibilang adalah orang luar. Ia bermain untuk Atletico Madrid — rival sekota Real Madrid — sebelum bergabung ke Bernabeu dan secara ia juga tak segan mengungkapkan kekagumannya akan striker Barcelona, Lionel Messi pada beberapa kesempatan yang tak sedikit.

Meski hal tersebut terkesan sepele, namun dikombinasikan dengan lemahnya status Solari di serta tanpa pengalaman dalam manajemen tim senior, semakin menunjukkan bahwa penunjukannya sebagai pengganti Lopetegui kali ini hanyalah solusi sementara saja, tidak untuk jangka waktu yang panjang.

 

Lantas, bagaimana langkah Madrid selanjutnya?

Faktor kunci bagi Madrid bisa jadi adalah liburan untuk pertandingan internasional berikutnya, yang bisa memberikan waktu sekitar dua minggu bagi Perez untuk mengamankan pengganti Lopetegui untuk jangka waktu yang lama sebelum jadwal padat kembali menyerang.

Faktor penting lainnya dalam timing Perez menentukan pelatih baru ialah regulasi dari federasi sepakbola Spanyol (artikel 60) yang menyatakan bahwa pelatih/manajer pengganti hanya bisa menangani tim dalam waktu maksimal dua minggu, di mana kemudian pelatih permanen harus sudah disebutkan namanya.

Maka dari itu, prioritas Solari saat ini adalah untuk menyeimbangkan tim senior, mendengarkan keluh kesah yang ada, dan mengembalikan kepercayaan diri para pemain yang melemah serta cukup menjalakankan apa yang harus ia lakukan sebisa mungin sebelum klub menunjuk manajer baru.

Singkat kata, kesempatan Solari menjadi pelatih permanen tim senior Real Madrid bisa dibilang sangatlah kecil.

 

Siapakah yang akan menjadi pelatih jangka Madrid berikutnya?

Pada awalnya, santer dikabarkan Antonio Conter lah yang akan menjadi pelatih Madrid. Namun mantan manajer Chelsea itu bertingkah jual mahal. Dilansir dari Marca, pelatih asal Italia itu meminta kontrak jangka panjang plus meminta klub membeli satu striker dan satu bek tengah baru — yang diasumsikan untuk mendukung skema favoritnya yang menggunakan formasi tiga bek.

Sejauh ini, Perez tak bisa menerima permintaan Conte tersebut dan dua minggu ke depan ini bisa dibilang adalah adu ketahanan siapa yang lebih keras kepala antara Perez dan Conte. Tapi melihat track record Conte, ia cenderung melakukan sesuatu sesuai dengan cara yang ia sukai. Dan hal itu berpotensi memperkeruh keadaan Madrid, karena para pemain Madrid lebih suka diperlakukan secara fair, seperti yang dilakukan Zidane, daripada dilatih oleh pelatih yang otoriter.

Maka dari itu, mantan pemain sekaligus direktur olahraga Madrid sekarang, Jorge Valdani, telah menunjuk pelatih timnas Belgia Roberto Martinez sebagai salah satu kandidat pelatih yang sesuai untuk Madrid. Mengutip kata-katanya kepada radio Spanyol Onda Cero: "Conte memiliki gengsi karena telah menang di beberapa negara, namun Roberto (Martinez) akan mampu beradaptasi dengan tim ini."

Jadi, jika Conte masih bersikeras dengan permintaannya, bisa jadi Martinez akan jadi solusi yang lebih masuk akal. Selain kedua pelatih tersebut, ada juga isu yang menyebutkan bahwa Jose Mourinho bisa jadi melakukan come back ke Madrid setelah kursi kepelatihannya di Manchester United juga terus bergoyang akhir-akhir ini. Siapa tahu? (Stefanus/IDWS)


Sumber: BBC

Share    

IDWS Promo

IDWS Event