IDWS.ID

Sejarah dan Budaya

Pedang Sakabato Kenshin Himura yang Asli Ditempa Penempa Pedang Tradisional Jepang

10 Aug 2019

IDWS, Sabtu, 10 Agustus 2019 - Siapa dari kalian anak generasi 90an yang tak mengenal Rurouni Kenshin atau yang lebih dikenal sebagai Samurai X di Indonesia? Sepak terjak Kenshin Himura dalam memberantas kejahatan dengan senjata sakabato — sebuah katana (pedang khas samurai Jepang) bersisi tajam terbalik — selalu dinanti oleh di televisi pada saat kecil dulu.

Seperti yang kita ketahui, sakabato merupakan senjata andalan Kenshin setelah pensiun menjadi battousai si pembantai. Tujuannya agar Kenshin tetap dapat melawan orang-orang jahat tanpa harus melanggar sumpahnya — tak lagi membunuh.

Pada kenyataannya, senjata seperti sakabato tidak pernah eksis atau digunakan di pertarungan hidup-mati antar samurai karena sederhana saja, tidak ada orang dengan keahlian pedang super seperti Kenshin pada era Jepang kuno, yang cukup percaya diri untuk mempertaruhkan nyawanya saat bertarung menggunakan senjata yang justru mudah melukai penggunanya itu bila tidak hati-hati.

Eksistensi sakabato hanyalah untuk melengkapi plot dari Rurouni Kenshin serta menonjolkan keahlian pedang Kenshin Himura yang sudah mencapai taraf superhuman itu.

Namun sekarang sakabato asli dan nyata telah diciptakan dan dipamerkan!

 

Museum Meijimura yang menggelar pamera khusus Rurouni Kenshin

Kompleks Meijimura di Inuyama, Prefektur Aichi, Jepang, merupakan sebuah fasilitas yang terdiri dari gedung-gedung relokasi era Meiji (1868-1912), atau era yang sama dengan era di mana Kenshin beraksi di mangan karangan Nobuhiro Watsuki. Museum Meijimura tengah mengadakan sebuah pameran khusus Rurouni Kenshin hingga 15 Desember lagi, dan pusat dari pameran tersebut adalah Sakabato Shinuchi (yang berarti sakabato yang benar-benar ditempa).

 

Sakabato Shinuchi

Sebelum kita mendiskusikan sakabato asli tersebut, mari kita berkenalan dulu dengan penempa pedang Kanekuni Ogawa yang telah berkali-kali memenangkan penghargaan spesial dari Society for Preservation of Japanese Art Swords karena keahlian menempa pedangnya dalam kontes Modern Swordsmith Exhibition. Keahlian menempa pedangnya telah dianggap penting sebagai properti kultur oleh Kota Seki, kota paling prestisius di Jepang sebagai produsen pedang dan peralatan kuliner.

 

Kanekuni Ogawa, sang penempa Sakabato Shinuchi

Dengan segala gelar serta pengakuan tersebut, kalian mungkin mengira menempa sakabato sungguhan adalah hal mudah, namun ternyata tidak demikian. Yang pertama adalah karena sumbernya adalah ilustrasi 2D (manga dan anime) yang seringkali tidak konsisten dalam hal lengkungan pedangnya, langkah pertama Ogawara adalah mencari-cari materi sumber untuk menemukan lengkungan yang pas demi mewujudkan versi real-life dari senjata khas Kenshin Himura itu.

 

 

Tak hanya lengkungannya, hamon (pola pedang, efek visual yang tercipta pada bilah pedang saat proses pengerasan) dari sakabato di manga dan anime juga kurang konsisten. Pada akhirnya Ogawa memilih pola gunome — gelombang tak beraturan namun dengan transisi yang lembut. Kesan ini mewakili kepribadian Kenshin Himura yang harus mengatasi kekacauan di negerinya namun tetap berpegang pada kebaikan hati dan kemanusiaan.

 

 

Hasilnya, Sakabato Shinuchi memiliki jumlah nie (kristal yang terbentuk pada proses pendinginan bilah pedang) yang banyak sehingga membuat pedang unik ini kilauan terang serta efek visual metal yang lembap.

Akan tetapi bagi Ogawa, bagian paling sulit adalah menempa bagian shinogi, komponen katana yang terdiri dari garis panjang di sepanjang sisi datar bilah pedang. Kebanyakan katana yang dibuat memiliki fitur ini yang memberi kesan lancip hingga ujung, namun lain halnya dengan sakabato yang memiliki shinogi tidak lazim yang terus berlanjut hingga ujung pedang yang tumpul. Ogawa pun menyiasati hal ini yang berakhir dengan refleksi cahaya yang sangat unik dalam Sakabatou.

 

 

Untungnya meski sulit, hal ini keahlian Ogawa masih sanggup mengatasinya. Dan hasilnya adalah ujung pedang yang mampu menangkap cahaya secara menakjubkan.

Seperti tradisi, pedang-pedang Jepang dipamerkan tanpa gagangnya, sehingga para pengunjung dapat menikmati tanda khusus atau ukiran nama yang biasa ditinggalkan para penempa pedang yang dibubuhkan pada bagian dasar bilah pedang. Pada kasus sakabato agak berbeda, karena tanda yang tertera di sana bukanlah tanda khas Ogawara. Namun puisi terakhir Arai Shakku — penempa pedang dalam Rurouni Kenshin yang menciptakan sakabato bagi Kenshin.

 

 

Selain menempanya pedang unik ini, Ogawa juga mengatakan bahwa hal tersulit adalah mencari seorang pengasah pedang yang memiliki keterampilan mumpuni untuk mengasah pedang dengan sisi tajam terbalik itu, karena desain tersebut berlawanan dengan teknik tradisional mengasah pedang.

Mungkin kalian mengira Ogawa mau menempa sakabato karena pernah membaca Rurouni Kenshin? Ternyata tidak. Ia malah mengaku sama sekali tidak pernah membaca manga tersebut sebelum setuju untuk menciptakan sakabato asli.

"Saya setuju membuat pedang ini (sakabato) karena mereka memintaku, dan sekali saya setuju, saya tak bisa berkata saya tak sanggup lagi atau tak mau membuatnya lagi hanya karena sulit," jelas Ogawa. Hal ini menunjukkan, sebagai seorang pembuat senjata bagi samurai, ia juga memiliki jiwa samura yang penuh akan kepercayaan diri dan dedikasi.

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: SoraNews24

Share    

IDWS Promo