IDWS.ID

Bisnis

Nasib NET TV, Contoh Nyata dari 'Man Proposes, God Disposes'

13 Aug 2019

IDWS, Selasa, 13 Agustus 2019 - Kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal karyawan NET TV menjadi trending topic di Twitter baru-baru ini. Padahal sebelumnya, stasiun TV swasta itu digadang-gadang menjadi pembeda dalam belantika pertelevisian Indonesia.

Laman law-justice.co menyebut bahwa NET TV tengah mempersiapkan PHK karena perusahaan yang didirikan oleh Wishnutama Kusubandio itu disebut tengah berada dalam masa-masa sulit karena tak mampu bersaing dengan para kompetitornya.

 

Wishnutama Kusubandio, pendiri NET TV yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama. (www.moneysmart.id)

Wishnutama sebagai Komisaris Utama PT NET Mediatama Televisi — sebelumnya CEO — menjelaskan bahwa isu tersebut adalah hoaks. Ia mengaku pihaknya tidak berencana melakukan PHK massal karyawan secara sepihak,meski mengakui bahwa perusahaannya tengah menghadapi beberapa masalah.

“Kami enggak ada PHK massal, kami enggak ada. Yang ada kami itu sebenarnya begini, ini, kan, kami juga di era sekarang ini dengan kompetisi yang semakin berat, jadi kami melakukan restrategi terhadap perusahaan. Jadi kami membuat strategi-strategi baru begitu lho. Nah terkait juga soal strategi human resource kami,” ujar pihak COO PT NET saat dihubungi Kompas.com.

Mengutip Kompasiana, NET TV sebelumnya diisukan akan bangkrut karena kalah bersaing dengan stasiun TV lainnya dari segi konten dan rating.

NET TV dikenal sebagai stasiun TV yang menawarkan konten acara yang berbeda dengan kompetitornya. Acara-acara seperti sinetron sulit ditemui di stasiun TV swasta itu, yang lebih mengedepankan konten eksklusif dan mendidik. Saat pertama kali mengudara, NET TV mengusung tagline "Televisi Masa Kini". Tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi primadona baru di dunia pertelevisian Indonesia.

Banyak program acara yang ditawarkan dengan mengusung konsep kekinian, elegan dan tidak lebay. Seperti Indonesia Morning Show, Ini Talkshow, Breakout, WIB, i, OK-JEK, NET.10, NET.12, Tetangga Masa Gitu, Sarah Sechan, dan lain-lain.

Namun di akhir tahun 2018, banyak program acara yang mulai menghilang. Bahkan acara musik anak muda Breakout yang biasanya tayang pada sore hari juga menghilang setelah beberapa kali dirubah konsepnya. Semua program acacara yang hilang digantikan dengan program NET Classic yang terdiri dari FTV lawas awal 200an atau kartun yang telah lama tayang.

Bahkan NET TV mulai menawarkan konten yang berbeda dari konsep awalnya, seperti konten mistis Merinding, konten anak muda IPOP dan beberapa konten lainnya. Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa masalah utama stasiun TV swasta itu adalah kurangnya biaya operasional,

 

Logo NET TV. (Kompasiana)

Membuat konten-konten berkualitas memang membutuhkan dana yang tidak kecil, belum lagi mereka harus bersaing dengan rating TV dari program-program acara yang disukai oleh masyarakat menengan ke bawah yang mendominasi di Indonesia.

Apa yang terjadi pada NET TV merupakan contoh nyata dari idealisme yang menabrak realita. Setinggi apapun idealismenya, harus punya dana untuk mewujudkannya. Dan para perusahaan yang ingin mengiklankan produk-produknya pun melihat rating penonton sebagai pertimbangan utamanya. Sedangkan rating televisi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitasnya. 

Jadi jangan kaget bila nantinya NET TV akan menurunkan standarnya dan tidak ada terobosan konten-konten pertelevisian yang istimewa, karena masyarakat yang menginginkan hal itu tidaklah banyak.

Sebagian besar dari mereka lebih memilih sinetron yang tayang setiap hari dan juga gosip-gosip panas para artis, dari drama "ikan asin" hingga pindah agamanya para selebriti. Bila NET mempunyai konten yang bagus namun tidak mempunyai profit yang mumpuni, bagaimana mereka bisa bertahan?

Bagaimana nasib NET TV nantinya? Tentunya bagi kalian yang prihatin akan pertelevisian Indonesia, akan berharap semoga stasiun televisi itu dapat bertahan. Pastinya semua kembali lagi ke masyarakat luas, bagaimana mereka mengapresiasi konten-konten TV.

Sebenarnya selera program acara TV menggambarkan mayoritas pemikiran masyarakat suatu bangsa. Menurut kalian, seperti apa bangsa yang rakyatnya mayoritas lebih menggemari sinetron, gosip dan drama-drama  ikan asin?

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: Kompas, Kompasiana

Share    

IDWS Promo